HANTA U’A PUA, PERINGATAN MAULID NABI ALA DANA MBOJO

Ulama Melayu, sedang menghadap Kesultanan
Untuk penyerahan Al Quran
Dalam Prosesing Hanta Ua'a Pua. FOTO: Iwan Tezar

Ngguwu Mbojo,- Dalam rangka memperingati Maulid Nabi Besar Muhammad SAW, Dana Mbojo memiliki acara perayaan sendiri. Acara Perayaan yang digelar oleh Majelis Hadat Sara Dana Mbojo tersebut dinamakan “Hanta U’a Pua” (Angkat Sirik Puan/ Mengangkat Mahligai Rumah yang dinaiki oleh Ulama Pembawa Islam di Bima).
Pada tahun ini Hanta U’a Pua digelar di ASI Mbojo, Rabu kemarin (21/02). Seperti perayaan tahun-tahun sebelumnya tradisi Hanta U’a Pua selalu ramai diikuti oleh berbagai lapisan masyarakat Bima. Dihadiri pula oleh seluruh jajaran Pemerintah Daerah Kabupaten Bima dan Kota Bima. Turut hadir saat itu, Gubernur NTB diwakili oleh Kepala Pariwisata Provinsi NTB dan Walikota Bima yang diwakili oleh Wakil Walikota Bima.
Kegiatan Perayaan tersebut dibuka dengan tampilan Drum Band Group SMPN 1 Kabupaten Bima dan dilanjutkan dengan Tarian massal siswa/siswi SDN se-Kabupaten Bima dengan menggunakan Pakaian Adat Bima. Tak hanya itu tarian Wura Bongi Monca juga disuguhkan sebagai tarian ungkapan selamat Datang kepada para tamu Undangan.
Pada Perayaan kali ini, Ketua Majelis Hadat Sara Dana Mbojo, DR. Hj Siti Maryam M. Salahuddin, SH mendapatkan kesempatan pertama dalam memberikan sambutan singkat. Dalam sambutan yang didengar oleh ribuan masyarakat Bima yang hadir dipelataran ASI Mbojo tersebut, mengkisahkan bahwa Prosesing Upacara Hadat Hanta U’a Pua telah dilakukan sejak tahun 1604 M sebagai acara syukuran kesultanan Bima karena telah memeluk Islam, yang dirangkaikan dengan perayaan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW. “Upacara ini bukan dibuat-buat. Pelaksanaannya hari ini, merupakan upacara yang telah dilakukan sejak jaman dahulu awal mula Islam dipeluk oleh Sultan Bima pertama, dengan seluruh rangkaian kegiatannya yang penuh dengan nilai” Ungkapnya.
Pada kesempatan kedua, Wakil Walikota Bima H. A. Rahman H. Abidin mendapatkan kehormatan untuk menyampaikan sambutan Walikota Bima. Dalam sambutannya tersebut, Wakil Walikota Bima menegaskan bahwa Tradisi Hanta U’a Pua bagi masyarakat Bima memiliki nilai filosofis yang sangat tinggi, bukan saja karena tradisi tersebut telah menjadi agenda sejarah yang mampu dilestarikan, akan tetapi upacara tersebut memiliki nilai yang amat sakral. “Karena secara historis, upacara ini menandai kesungguhan masyarakat Bima dalam menjalankan ajaran Islam secara totalitas dengan menerima Al-Quran sebagai pedoman hidup dan Nabi Muhammad SAW sebagai teladan yang wajib diikuti,” tuturnya
Selanjutnya, Bupati Bima pada sambutannya mengatakan, dirinya melihat adanya pergeseran nilai, moral, akidah, budaya dan adat istiadat pada masyarakat Bima saat ini. Sehingga, dirinya berharap dan berpesan, agar masyarakat Bima segera kembali ke adat dan istiadat orang tua, nenek moyang dan leluhur sejak tanah Bima ada. Karena dengan itulah, masyarakat Bima bisa merajut kembali hubungan kekeluargaan yang sangat kental pada saat itu.
Pasukan Kesultanan Bima melakukan Gelar Pasukan sesaat sebelum
Rumah Mahligai tiba di ASI Mbojo Bima sebagai Inti
dari Prosesing Hanta U'a Pua. FOTO: Iwan Tezar
Melalui moment upacara Hanta U’a Pua, Bupati Bima mengajak masyarakat untuk selalu mengajarkan kembali anak cucu dan generasi, bahwa Bima kita adalah daerah yang maju, sejahtera, dan daerah yang menghargai sejarah.
“Orang Bima memiliki karakter yang islami, cinta damai, mau menghargai satu dengan yang lain. Itu tercermin dalam falsafah dan sistem Kesultanan Bima. Maka dari itu, melalui moment ini, mari kita mulai merangkai kembali pergeseran itu,” ajaknya lantang.
Setelah Sambutan demi sambutan selesai dikhaturkan, tibalah pada acara inti dari Prosesing Hanta U’a Pua tersebut, yaitu masuknya pasukan Jara Wera sebagai pengawal pendekar di halaman istana Bima, disusul dengan kedatangan Jara Saru atau pasukan berkuda (Kavaleri) dengan kuda yang pandai menari. Tak berselang lama, diiringi suara gendang kerajaan, Uma Lige (Rumah Mahligai) yang menyerupai Masjid, sebagai simbolitas U’a Pua ditanduk oleh puluhan masyarakat Bima memasuki halaman istana.
Merebut 99 tangkai yang berisi telur oleh masyarakat yang hadir dalam
perayaan Hanta U'a Pua.
tangkai-tangkai tersebut dipercaya dapat membawa berkah. Foto: SaveBima  
Uma Lige yang membawa salah seorang tokoh Melayu dan membawa empat orang putra dan putri serta serumpun tangkai bunga telur berwarna warni yang dimasukan dalam wadah segi empat dan dihias ala Melayu yang berjumlah 99 tangkai sesuai dengan Asmaul Husna di antar menuju altar kesultanan.
Puncak dari prosesing tersebut adalah penyerahan Al-Quran oleh tokoh Melayu kepada Jena Teke, sebagai simbolitas memeluk islam secara totalitas. Sedangkan Tokoh Melayu adalah kelompok masyarakat yang dkhususkan oleh Sultan pada masanya sebagai Guru dan Imam bagi Kesultanan Bima.
Prosesing Hanta U’a Pua diakhiri dengan penyerahan 99 tangkai bunga yang berisi telur pada tiap tangkai. yang kemudian diperebutkan oleh masyarakat yang hadir sebagai susatu yang telah di Rahmati oleh pewaris ulama melayu, sekaligus menjadi akhir proses upacara adat tersebut. (Liputan: Ardy/Rangga)

Share on Google Plus

About Unknown

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 comments :

Post a Comment